Senin, 10 November 2014

Kisah dokter Brackett


Berikut ini kisah dokter Brackett yang berbagi kasih dengan sesama.

Dokter Brackett tinggal di sebuah kota kecil di Amerika. Orang mengenalnya sebagai sahabat orang miskin, karena ia banyak menghabiskan waktunya untuk mengobati dan merawat orang-orang miskin yang sakit. Ia juga tidak memungut biaya apa pun dari mereka.
Karena ia tinggal di lantai atas sebuah ruko, maka pada anak tangga paling bawah menuju tempat tinggalnya terdapagt tulisan: “DR. BRACKETT–KANTOR DI LANTAI ATAS”.
Pengabdian yang besar terhadap orang-orang miskin dan kepada siapa pun di sekitarnya menyebabkan dokter berbudi ini kehilangan kekasih yang akan dinikahinya. Kekasihnya merasa bahwa sang dokter lebih banyak menghabiskan waktunya dengan orang-orang sakit daripada dengannya.
Ketika dokter ini meninggal dunia, acara penguburannya merupakan yang terbesar yang pernah terjadi di kota itu. Untuk mengenang kebaikan hati sang dokter, penduduk kota mendiskusikan rencana untuk mendirikan monumen bagi dokter yang telah tiada tersebut.
Dalam perjalanan pulang seusai pertemuan diskusi, sepasang suami istri berkebangsaan Meksiko yang telah dibantu secara khusus oleh dokter tersebut, menanggalkan papan pada anak tangga menuju tempat tinggal dokter itu.
Pada hari berikutnya mereka memancangkan papan berisi tulisan: “DR. BRACKETT – KANTOR DI LANTAI ATAS” itu di atas makam sang dokter.

Berikut ini cerita dari Jepang kuno, yang menggambarkan betapa besarnya kasih sayang seorang Ibu.
Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang yang sudah  berusia lanjut ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, sehingga tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya.
Alkisah ada seorang anak yang membawa orangtuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini menyusuri hutan  Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil dan menaburkannya disepanjang jalan yang mereka lalui tanpa diketahui sang anak.
Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan sang ibu dan mengucapkan kata-kata perpisahan sambil menahan sedih, karena sebenarnya hati kecilnya tidak tega untuk melakukan perbuatan itu.
Justru si ibu yang tampak tegar dan ikhlas, dan dengan tersenyum dia berkata “Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Dari kau kecil sampai dewasa Ibu selalu merawatmu dengan penuh kasih sayang. Bahkan sampai hari ini rasa sayang itu tidak berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lewati dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu  sebagai petunjuk jalan agar kau selamat sampai dirumah.”
Mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya erat-erat dan  kembali menggendongnya untuk  dibawa pulang  ke rumah. Pemuda tersebut akhirnya merawat ibunya dengan baik dan penuh kasih sayang sampai sang ibu menghembus napas terakhir.
Ini adalah kisah lain,  kisah nyata pengorbanan seorang Ibu selama Gempa di Jepang. Setelah gempa telah mereda, ketika para penyelamat mencapai reruntuhan rumah seorang wanita muda, mereka melihat mayat-nya melalui celah-celah.

Akan tetapi, wanita tersebut berpose begitu aneh, dia berposisi seperti melindungi sesuatu; tubuhnya condong ke depan, dan dua tangan yang mendukung oleh suatu benda. Rumah roboh telah menimpa punggung dan kepalanya.

Dengan begitu banyak kesulitan, pemimpin tim penyelamat meletakkan tangannya melalui celah sempit di dinding untuk mencapai tubuh wanita itu. Dia berharap bahwa wanita ini bisa jadi masih hidup. Namun, tubuh dingin dan kaku menandakan bahwa wanita tersebut pasti telah meninggal.

Pemimpin tim dan seluruh anggota tim lalu meninggalkan rumah ini dan akan mencari gedung yang runtuh berikutnya. Namun karena alasan tertentu, pemimpin tim terdorong untuk kembali ke rumah
hancur dari wanita tadi.

Pemimpin tim ini lalu berlutut lagi dan menggunakan kepalanya melalui celah-celah sempit untuk mencari sedikit ruang di bawah mayat wanita tersebut. Tiba-tiba, ia berteriak dengan gembira, “Anak kecil!  Ada anak kecil !”

Lalu seluruh tim bekerja bersama-sama, dengan hati-hati mereka menyingkirkan tumpukan benda hancur di sekitar wanita yang sudah meninggal. Ada seorang anak kecil berusia 3 bulan terbungkus selimut bunga-bunga di bawah mayat ibunya. Jelas, wanita itu telah membuat pengorbanan untuk menyelamatkan anaknya. Ketika rumahnya jatuh, ia menggunakan tubuhnya untuk membuat penutup untuk melindungi anaknya. Anak itu masih tidur pulas ketika pemimpin tim mengangkatnya.

Para dokter datang cepat untuk mengevakuasi anak kecil itu. Setelah ia membuka selimut, ia melihat
sebuah ponsel di dalam selimut. Ada pesan teks pada layar.
Dikatakan, “Jika kamu dapat bertahan hidup, kamu harus ingat bahwa aku mengasihimu. Ponsel ini berkeliling dari satu tangan ke tangan yang lain pada tim itu. Setiap tubuh yang membaca pesan tersebut menangis. “Jika kamu dapat bertahan hidup, kamu harus ingat bahwa aku mengasihimu.” Itu artinya kasih ibu untuk anaknya!
Inilah kasih sejati, Kasih Tanpa Syarat.

Berikut ini kisah lain tentang kasih.

Brownie dan Spotty adalah 2 anjing bertetangga yang setiap hari bermain bersama. Suatu malam majikan Brownie merasa heran karena Brownie tidak pulang ke rumah. Satu minggu pun berlalu. Spotty selalu mengelilingi rumah Brownie sambil menggonggong dan mengeluarkan suara aneh seolah-olah sengaja menarik perhatian keluarga majikan Brownie. Namun, keluarga tersebut tidak peduli dengan tingkah laku Spotty. Sampai akhirnya mereka merasa curiga dan kemudian mulai peduli dengan tingkah Spotty dan mereka mengikuti Spotty ke suatu tempat di sebuah ladang kosong. Akhirnya mereka menemukan Brownie di sebuah pagar yang ditutupi pohon dengan satu kaki belakangnya yang terjepit perangkap baja. Di sekeliling anjing yang terperangkap itu ditemukan sisa-sisa makanan. Makanan tersebut sama persis dengan makanan yang diberikan kepada Spotty dalam minggu ini. Rupanya Spotty dengan dengan setia selama satu minggu mengunjungi sahabatnya yang terperangkap dan membawa makanan untuknya. Ia mempertahankan hidup sahabatnya yang terperangkap meskipun harus mengorbankan kenyamanannya sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar